BBM DAN KITA, MAHASISWA

Oleh : “ Riki Gana *)

Baru-baru ini tepatnya hari sabtu, tanggal 23 mei 2008 pemerintah resmi menaikan harga Bahan Bakar Minyak. Tanpa menghiraukan lagi kritikan, cercaan dan apapun itu namanya yang menimbulkan demo besar-besaran tak dapat dielakan.

Prolog

Secara logika pasar, memang masuk akal mengapa pemerintah kita menaikan harga BBM/ menarik harga subsidi BBM. Harga minyak dunia meningkat tajam, dan selama ini pemerintah selalu melakukan subsidi untuk BBM, sehingga dapat dipastikan apabila subsidi tidak dicabut (BBM dinaikan, red) maka APBN akan merosot drastis yang mengakibatkan negara defisit dan bangkrut, katanya.

Pemerintah juga berdalih, subsidi selama ini hanya dinikmati rakyat kalangan atas, orang-orang yang mempunyai kemampuan finansial kuat bukan oleh orang-orang miskin yang melarat, karena daya beli masyarakat papan atas lebih besar daripada daya beli rakyat jelata. Jadi, siapa yang diuntungkan, siapa yang disengsarakan, apa yang harus dilakukan, lagi-lagi itu katanya……

Tak sampai disitu, pemerintah pun berdalih – dengan diwakili statement pak yusuf kalla di berbagai media – bahwa menaikan BBM sebetulnya pilihan sulit, bukan lagi pilihan antara yang baik dan yang buruk, tapi pilihan yang buruk dan lebih buruk, sama dilemanya. Dan menaikan harga BBM ini dinilai keputusan yang kurang begitu buruk untuk saat ini. Ya.. daripada melakukan subsidi dan APBN tekor.?!

Dan bagaimana dengan rakyat miskin ??

Pemerintah katanya menyediakan solusi – walau solusi yang dinilai kurang kreatif, ngekor kebijakan pada tahun sebelumnya, 2005 – pemerintah akan memberikan bantuan kepada rakyat miskin melalui skema bantuan langsung tunai (BLT) sebanyak 17 triliun, yang didapat dari nilai Rp 35 triliun hasil penghematan APBN dengan menaikan harga BBM ini. Pemerinah yakin dengan menaikkan harga BBM 30 %, negara akan menghemat sekitar Rp 35 triliun dan dari jumlah tersebut Rp 17 triliun akan di poskan untuk bantuan langsung tunai bagi rakyat miskin. (Kompas, kamis 22 mei 2008).

Itulah logikanya, masuk akal bukan?? Dengan penyampaian yang sangat “retoris”, dan terlihat ilmiah, kita dipaksa harus paham bahwa menaikkan harga BBM merupakan harga mati. Sebuah harga yang tak bisa di tawar-tawar lagi.

Fakta

Semua orang boleh bicara, berpendapat, mengkritik, ataupun hal yang sejenisnya asalkan tidak memaksakan kehendaknya. Tapi, tentunya bukan berdasarkan kacamata kuda. Hanya menilai dari satu sisi saja yang menyebabkan pembenaran membabi buta. Begitupun dengan hal ihwal BBM ini. Secara logika pasar tak disangkal kebenarannya, hanya saja tidak begitu faktanya.

Pemerintah boleh saja berdalih bahwa menaikan harga BBM akan menyelamatkan APBN sekaligus memberikan pelajaran bagi orang-orang kaya yang memnfaatkan subsidinya. Tapi, lihat juga golongan rakyat indonesia lainnya, yang notabene jumlah rakyat miskin lebih banyak dibandingkan dengan yang empunya. Kenaikan BBM ini sangat memberatkan mereka, karena berimbas pada aspek kehidupan lainnya. Harga BBM berbanding lurus dengan harga pangan, sembako, transportasi, pakaian, pendidikan dan harga-harga lainnya yang mau tidak mau suka tidak suka ikut meroket menyesuaikan dengan induknya- Harga BBM.

Bagi orang “yang punya”, mungkin mudah saja menyesuaikan gaya hidupnya seiring dengan kenaikan ini, toh tidak terlalu signifikan perubahannya, hanya melakukan sedikit penghematan maka semuanya akan kembali seperti biasa, tak ada yang berat dengan naiknya harga BBM.

Lah rakyat miskin???

Apapula yang harus dihemat!!! Apakah harus mengurangi lagi jatah makan yang sebelumnya BBM hanya 2 kali sehari sebelum kenaikan – malahan ada yang lebih tragis memakan nasi aking setiap harinya.

Atau haruskah lebih rela memakai pakaian lebih compang-camping. Yang padahal saat ini sajamenggunakan metode –cuci-kering-pake-cuci-kering-pake-..??? Terus bagaimana dengan pendidikan anak-anaknya? Bagaimana dengan mata pencehariannya bagi masyarakat yang menggunakan BBM sebagai bahan bakar alat usahanya?? Dan.. masih banyak lagi…..

Selanjutnya bagaimana dengan BLT? mari kita potret lebih dekat fenomena yang terjadi pada BLT.

Yang jadi heran, apakah pemerintah tidak mengevaluasi hal ini dari tahun sebelumnya. Dimana pada tahun 2005 pun Bantuan ini hanya menambah “kericuhan” di masyarakat. Banyak data yang salah, sehingga BLT tidak tepat sasaran. Dan Ironisnya sampai saat inipun datanya masih awut-awutan. Alhasil dapat dipastikan takkan jauh beda dengan fenomena sebelumnya.

Rakyat semakin menderita, ya ribut gara-gara kenaikan BBM dan jajarannya,ya…diributkan dengan perebutan dana yang tidak begitu jelas pangkal dan ujungnya. Rakyat makin terinjak-injak, alih-alih sejahtera malah bahteralah yang didapat. Mungkin inilah alasan mengapa di beberapa daerah di Jawa tengah menolak menerima BLT. Bukan mereka tidak membutuhkan tentunya, tapi dikarenakan perjuangan mendapatkannya tidak sesuai dengan apa yang diperolehnya.

Belum lagi dampak BLT ini bagi kehidupan sosial. BLT yang telah ditetapkan dengan Inpres No. 3/2008 ini malah hanya akan menimbulkan penurunan moral dimasyarakat. Mereka diajari untuk malas, dan mereka di bodoh-bodohi, dengan memberikan bingkisan spesial selama 7 bulan (Juni-des 2008) sebesar 100 ribu dengan membiarkan penderitaan yang akan mendera terus-terusan. Masyarakat diajari instan menghadapi kesulitan perekonomian. Kalau tidak punya uang, ya tengadahkanlah tangan, menjerit sejadi-jadinya agar didengarkan, baru nanti setelah dilirik dan didengarkan, diam karena jatah sudah dibagikan. Dan penderitaan pun dilanjutkan…..

Sekarang BBM telah dinaikan, BLT telah diajukan dan disyahkan, ya berarti terjawablah sudah defisit APBN, pemerintah boleh saja tenang dn senang, tapi yang jadi pertanyaan dan harus kita pertanyakan, Apakah keberadaan APBN yang cukup bagi pemerintah dapat membuat pemerintah cukup efisien dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat? Dalam pendidikan? Dan bahkan dalam semua lini kehidupan..??

Solusi : BBM dan kita Mahasiswa

Palu telah diketuk, peraturan presiden telah ditetapkan, BBM telah dinaikkan. Apa yang harus dilakukan??

Saling menyalahkanpun takkan ada habisnya, tak ada jalan terang untuk memecahkan masalahnya. Apalagi melakukan perbuatan anarkis yang dapat menghancurkan kita semua. Malah merugikan bahkan menelan korban – seperti kasus rekan-rekan UNAS,Jakarta –

Hendaknya kita berlomba-lomba bersikap bijaksana dan mencari solusi yang tepat. Telah banyak solusi yang ditawarkan oleh berbagai kalangan, misalnya saja menaikkan produksi minyak mentah didalam negeri, meningkatkan efisiensi cost recovery, mengembangkan energi alternatif pengganti BBM (biofuels dan bioetamol), sampai solusi yang cukup adil, menurunkan gaji pejabat pemerintah dan wakil rakyat untuk subsidi rakyat miskin, hanya saja seolah-olah tak ada follow up nya. Hanya berlomba-lomba unjuk gigi agar diakui kebolehannya.

Lantas bagaimana dengan kita mahasiswa??

Tentu banyak hal yang harus kita lakukan. Mengingat mahasiswa adalah harapan masyarakat, kelompok yang mampu secara independent memperjuangkan rakyat. Kita tidak menutup mata memangnya, banyak hal yang telah dilakukan, berbagai cara dicoba, mulai demo secara besar-basaran sampai taraf audiensi yang tak kenal melelahkan. Kita pun menghargainya, hanya saja yang dikhawatirkan ini hanyalah seolah-olah musim-musiman atau trend-trendan. Untuk itu rasanya bijaksana jika kita sebagai mahasiswa memberikan solusi yang berkelanjutan, yaitu dengan berlomba-lomba sesuai dengan bidang profesinya memberikan yang terbaik buat bangsa ini. Mengembangkan apa yang kita bisa sesuai dengan profesinya untuk kemajuan bangsa.

Epilog

Bagaimana dengan kita, mahasiswa FT.UNTIRTA??

Mau tidak mau, kenaikan BBM ini menyentuh kehidupan kita semua, langsung maupun tidak. Lihat saja misalnya: ongkos transportasi, biaya makan, sampai dengan harga kost-kostan, ikut-ikutan mengimbangi kenaikan BBM. Contoh sederhananya adalah biaya transportasi angkot, yang biasanya dari KR ke kampus Rp 1000,- sekarang telah berubah naik menjadi Rp 2000,-. Dari arah damkar pun demikian. Mengalami kenaikan. Belum lagi biaya makan pun ikut-ikutan mengalami lonjakan. Ya.. mungkin karena bahan makanan meningkat pula seiring dengan kenaikan BBM ini. Memang sangat dilema.,,,

Untuk itu, rasanya sangatlah bijak jika kita mahasiswa FT.UNTIRTA– yang notabene masyarakat intelektual memberikan solusi yang terbaik bagi bangsa ini. Jika kita belum dapatkan bagaimana menemukan energi alternatifnya, langkah pengiritan sangat baik untuk dilakukan. Mulailah lirik kendaraan ramah lingkungan, sepeda.

Ya, sepeda!! Kendaran yang ramah lingkungan, dan tentunya yang penting adalah hemat BBM dan hemat uang.

Mari kita galakan “go to Campuss with bycle”. Itu langkah awal yang cukup bijaksana.

Tak perlu membuat keributan, tak perlu mengeluh, tak perlu menjerit, tak perlu buat kerusakan yang meresahkan masyarakat. Ingatlah kaidah fiqh yang berbunyi “dar’ulmafasial muqaddamun ‘ala zalbil mashalih” mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada menegakan kebenaran. Biarkan rekan-rekan yang lain habis-habisan. Kita tetaplah tenang, anggap ini ujian, mungkin mulanya kita terjepit, lalu terdorong untuk aktif mencari solusi, dan mudah-mudahan bahagia diakhir nanti..

Mari membangun dengan CINTA…..!!!

*(rgs_metal)

*( Menteri kemitraan Organisasi BEM UNTIRTA 2007-2008/ Mahasiswa Metal 2004)

Tentang Riki Gana

Riki Gana Suyatna
Galeri | Pos ini dipublikasikan di BERANDA, Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s