Let’s Be Entrepreneur

Oleh: Riki Gana 041226*)

Prolog

Disamping studi mengenai Industri-industri hilir, sebetulnya Metalurgi UNTIRTA pun mempelajari industri hulu –industri bahan-bahan pertambangan, bahan-bahan penyedia untuk industri hilir– Termasuk didalamnya batu kapur, merupakan bahan yang digunakan untuk industri hilir, misalnya untuk bahan pendukung peleburan besi-baja.

Dalam proses peleburan besi baja di EAF (Dapur Listrik Arc), Kapur (CaCO3) digunakan untuk mengikat slag dan penyeimbang proses peleburan. Dalam prakteknya, Kapur gamping (CaCO3) masih mengandung pengotor CO2 yang akan menghambat proses peleburan. Hal ini tentunya merugikan, karena konsumsi listrik yang tinggi pada saat proses penghilangan CO2. Untuk itu harus dilakukan proses awal yang dinamakan proses kalsinasi. Proses ini merupakan proses pembakaran kapur gamping (CaCO3) yang menghasilkan Kapur bakar (CaO) dan gas Karbondioksida (CO2). Dengan melakukan proses ini tentunya kita bisa melakukan penghematan, dan yang lebih penting akan terbukanya peluang usaha baru, perusahaan kalsinasi Batu Kapur.

Berdasarkan latar belakang tersebut, pada tanggal 3 Mei 2008, rombongan mahasiswa Metalurgi UNTIRTA –yang mengambil MK non Ferrous- tergerak untuk mengunjungi pabrik kapur yang berada di Bayah-Banten Selatan.

Selain dimaksudkan untuk mengenal dan mengaplikasikan proses kalsinasi, kunjungan ini bertujuan melakukan “studi kelayakan”. Hal ini dilatar belakangi laporan pengamatan dari survey sebelumnya yang menyatakan bahwa pabrik kapur tesebut tidak lagi melakukan proses kalsinasi, hanya proses kominusi. Padahal perlengkapan prosesnya masih berdiri dengan lengkap (Contoh: Dapur pembakaran/ Shaft furnace yang berdiri tegak). Hal yang menarik, merupakan tantangan dan hal berharga dalam Mata Kuliah. Disamping mengamati, kitapun dapat menganalisa dan melaporkan apasaja penyebab proses kalsinasi itu terhenti, dan bagaimana solusinya. Tentunya menyangkut berbagai aspek, dari ekonomi, metalurgi, pemasaran, dan lain sebagainya.

Nah, studi kelayakan ini dimaksudkan untuk merangkum semua data yang didapat berdasarkan pengamatan, kemudian akan disusun menjadi sebuah laporan, nantinya sebagai dasar analisa tentang LAYAK atau TIDAKNYA pabrik kalsinasi di Bayah tersebut.

Mengapa kita mengambil lokasi Bayah??

Pertanyaan yang cukup menarik, dan itu pertanyaan mendasar kunjungan ini. Perlu diketahui, Bayah merupakan suatu daerah yang kaya akan barang tambang, terletak di kabupaten Lebak pada daerah propinsi BANTEN. Ironisnya, daerah ini masih belum tergali secara maksimal kandungannya, terbukti dengan banyaknya cadangan yang belum di eksplorasi maupun eksploitasi. Padahal jika dikelola secara konsisten dan kontinyu serta penuh tanggung jawab, akan menambah pendapatan daerah dan berimbas pada kesejahteraan masyarakatnya, tidak seperti sekarang. Buktinya, dulu pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, daerah ini di eksploitasi habis-habisan untuk kepentingan perang.

Contoh paling kongkrit dan berhubungan dengan kunjungan ini adalah batu kapur, cadangannya pun melimpah ruah dan belum termanfaatkan. Puluhan bahkan mungkin ratus tahun pun takkan habis terkikis, secara kasat mata kitapun bisa memprediksinya. Karena begitu luasnya lokasi-lokasi yang mengandung batu kapur ini.

Bagaimana Pabrik Kapur disana???

Tinjauan lapangan

Dengan jumlah 28 orang(1orang dosen,1sopir,1satpam & sisanya mahasiswa). Pada hari sabtu sekitar pukul 06.00 WIB kami berangkat menggunakan Bus UNTIRTA menempuh perjalanan sejauh 250km Cilegon – Bayah. Kira-kira pukul 14.00 kita sampai di pabrik tersebut,dengan melalui jalan yang cukup berliku dan transit 2 kali untuk istirahat, dan tanpa banyak basa-basi kami langsung terjun ke lapangan untuk meneliti, memahami pabrik tersebut sesuai dengan tugas tiap kelompok yang telah di tentukan.

Pabriknya memang cukup kecil, tidak seperti pabrik yang terdapat di Kawasan Industri Cilegon pada umumnya. Tapi cukup memberikan gambaran tentang “alat-alat” serta proses yang selama ini hanya kita ketahui lewat literature di Mata Kuliah Pengolahan Mineral. Terdapat Jaw Crusher, screen, konveyer dan beberapa alat-alat lain sebagai pendukungnya, selanjutnya terbukti sesuai laporan pengamatan survey sebelumnya bahwa ada dapur kalsinasi/Shaft furnace yang tidak dioperasikan.

Seperti yang telah disinggung diawal, bahwa hanya Prinsip kominusi saja yang digunakan dipabrik tersebut, proses dimana kapur gamping (CaCO3) di crusher (dibelah) sampai dengan ukuran-ukuran tertentu sesuai keinginan pasar, dan kemudian di packing dan dijual. Tidak memperdulikan proses kalsinasinya, padahal kalau dipandang dari harga pemasaran, selisih harga jual antara kapur mentah dan kapur bakar cukup signifikan. Berdasarkan data pemasaran di internet disebutkan bahwa harga kapur mentah yang sudah di packing (CaCO3) sekitar 300 per kg dan harga kapur bakar (CaO) sebesar 800 tiap kgnya. Coba kita bayangkan andai saja ada sentuhan metalurgi disana (proses kalsinasinya di fungsikan) berapa keuntungan yang bisa kita dapatkan. Dan berapa orang masyarakat yanga akan terlibat dalam pabrik itu?? Akan menambah kesejahteraan, dengan mengurangi pengangguran.

Setelah pengambilan data dirasa cukup, kami pun memutuskan pulang ke Cilegon sekitar pukul 17.00 dan sampai di Cilegon pukul 22.00 WIB. bermodal data yang yang telah didapat harapannya studi kelayakan ini dapat di jalankan secara maksimal. Sehingga, setelah pengolahan data terselesaikan kita akan mendapatkan sebuah hasil tentang “LAYAK atau TIDAKnya” pabrik kapur tersebut di operasikan di Bayah. Adapun pada proses pengolahan data terdapat didalamnya data tambang batu kapur (kominusi), rancangan pabrik (perencanaan industri Metalurgi), proses kalsinasi (Pirometalurgi) sampai aspek ekonomi (Ekonomi Teknik dan Manajemen Industri). Sudah terintegrasi, bahan ada, proses kita bisa, modalpun bisa kita siasati, apalagi yang kurang?? Tinggal keseriusan kita dalam mengerjakan….!! Bukankah ini konsep Enterpreneur yang selama ini kita idam-idamkan?? Mudah-mudahan ini berhasil!!

Apa yang bisa kita lakukan??

Renungan

Kalau kita perhatikan dari awal, miris mendengarnya, hal ini menggugah kita bahwa butuh sentuhan metalurgi di daerah sana. Mungkin tidak ada yang “paham” akan hal tersebut. Nah, tugas kitalah sebagi “warga METALURGI” menyelesaikannya, apalagi METALURGI UNTIRTA merupakan satu-satunya lembaga Pendidikan yang ada di BANTEN yang konsentrasi akan hal tersebut.

Jadi, kalo bukan kita siapa lagi, apakah kita akan menunggu orang asing mengeksploitasinya?? Dan hanya jadi penonton!!!

*( Mahasiswa Metalurgi angkatan 2004; mantan Ketua HIMAMET Peride 2006-2007)

Tentang Riki Gana

Riki Gana Suyatna
Galeri | Pos ini dipublikasikan di BERANDA, Opini. Tandai permalink.

3 Balasan ke Let’s Be Entrepreneur

  1. adji berkata:

    sip..mesti begitu. baru bangsa berubah. kalo ada teknologinya yang efisien aku mau juga invest tuh. hub emailku ya

    adji

  2. Riki Gana berkata:

    oke,, pak adji,,, sebetulnya secara teknologi sudah ada, antara efisien dan tidaknya saya belum bisa jawab. Sebab teknologi kalsinasi batu kapur dari dulu sampai sekarang prinsipnya sama yaitu menggunakan tungku tegak…

  3. diah berkata:

    AI pa ST. mu tanya dund…ini termaksud fnomena transport bukan???

    ^0^….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s