PUASA DAN ATTITUDE; Pembelajaran untuk kita, mahasiswa

Oleh: Riki Gana *)

Jika kamu sedang berpuasa, maka jangan berkata keji dan jangan marah; dan jika ada orang memaki atau mengajak berkelahi, katakanlah: “aku sedang berpuasa!” (HR Bukhari-Muslim).

Tak terasa waktu berlalu, Ramadhan demi Ramadhan telah kita lewati. Dan tak terasa pula Ramadhan tahun ini pun telah kita lalui dalam waktu kurang lebih setengahnya. Apa yang telah kita dapatkan? Itulah pertanyaan penting yang harus kita renungkan.

Bulan Ramadhan yang mempunyai berbagai keistimewaan, tentu banyak nilai luhur terkandung di dalamnya. Yang sepatutnya kita pahami, renungkan dan harus kita laksanakan. Salah satunya adalah nilai-nilai dalam bersikap (attitude) -baik perilaku maupun perkataan- sebuah tata nilai yang kadang kita sepelekan.

Banyak prinsip attitude yang diajarkan pada Bulan Ramadhan, misalnya saja prinsip kedisiplinan. Lihat saja saat kita berbuka puasa, kita tidak boleh berbuka kalau belum tepat pada waktunya, walau hanya beda semenit saja. Sebab kalo kita melanggarnya maka puasa seharian yang telah kita lakukan akan dibatalkan. Ini pembelajaran buat kita dalam hal kedisiplinan, khususnya manajemen waktu. Kita harus terbiasa untuk menghargai waktu dan memanfaatkannya secara optimal. Bagi kita mahasiswa yang kadang menyepelekan waktu hendaklah segera menyadarinya karena sebetulnya semua hal tentang sukses dimulai dari bagaimana kita menghargai waktu. Bisa saja kita gagal saat kuliah, saat test kerja, atau mungkin saat pacaran hanya dikarenakan ketidakbisaan kita menghargai dan memanage waktu. Seperti analogi berbuka tadi, semua tanpa ada perkecualian, kalo memang tidak menghargai waktu (tidak tepat pada waktunya,Pen) ya dibatalkan.!! Jadi bagi kita yang suka telat saat kuliah, jadikanlah ini pelajaran. Atau mau kuliahnya di gagalkan??

Saat puasa kita pun harus mengikuti semua SOP-nya (Standart Operasional Prosedure). Hal ini membuktikan bahwa Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk terbiasa taat pada aturan. Tidak ada penspesialan, miskin ataupun kaya, pintar ataupun bodoh, cakep ataupun jelek. Semuanya sama, harus mengikuti aturan. Apabila kita melanggarnya ya siap-siap saja pahala melayang – malah mungkin dosa yang didapatkan!!. Fenomena ini mengajarkan kepada kita (mahasiswa,Pen) untuk membiasakan diri mengikuti aturan. Baik dalam perkuliahan maupun dalam kehidupan. Sebab yang terjadi kadangkala kita menyepelekan aturan, merasa sudah bebas karena telah menyandang gelar mahasiswa, MAHA dari semua SISWA – jadi tak perlu lagi namanya aturan – terkadang kita merasa benar sendiri, padahal ini membuat tergelincir kita pada jurang kearogansian yang berujung pada kesombongan dan tentunya hal ini keluar dari nilai-nilai luhur kemahasiswaan. Nah, dengan adanya latihan satu bulan ini diharapkan kita membiasakan diri untuk mengikuti aturan. Paparan tadi sebetulnya hanya sebagian kecil saja dari berbagai fenomena dari Puasa di Bulan Ramadhan yang mengajarkan bagaimana memaknai nilai kedisiplinan. Tentunya masih banyak, yang jelas, melalui mekanisme puasa di Bulan Rammadhan ini kita hendaknya meninjau ulang bagaimana prinsip kedisiplinan di diri kita. Apakah sudah melekat dan sudah dilaksanakan, ataukah belum – hanya sekedar kata-kata saja?

Nilai selanjutnya yang tak kalah penting adalah nilai-nilai kesopanan, dimana pada bulan ini kita diajarkan untuk selalu menghargai orang lain, bertutur kata yang baik, tidak saling mencaci, dan tidak saling melemahkan, intinya selalu berucap yang baik dan seadanya. Hal ini sangat menarik khususnya bagi kita mahasiswa, yang kadang mengabaikannya. Kadang kita tidak lagi memperdulikan nilai ini, saat diskusi, saat kuliah, atau pada saat sekedar ngobrol-ngobrol saja, sudah sangat jauh dari nilai-nilai kesopanan. Kita tidak peduli lagi akan perasaan orang lain, kita tidak peduli akan apa yang dirasakan orang lain saat kita mencacinya, menggunjingnya ataupun saat membantahnya. Padahal bertutur kata yang baik itu dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW. Secara sederhana kalau kita membiasakan bertutur kata dan sikap yang sopan, tentulah enak untuk semua orang bukan??

Sebetulnya masih banyak nilai yang terkandung dalam bulan Ramadhan ini, tapi setidaknya dua nilai itulah yang penting kita renungkan bagi mahasiswa. Minimal setelah bulan Ramadhan usai dua nilai itu dapat kita terapkan dan laksanakan.

Kita harus ingat bahwa kesuksesan sebagaian besar dipengaruhi oleh tata nilai sikap atau attitude. Untuk itu mari kita telaah lebih jauh bagaimana attitude kita selama ini, dan melalui Ramadhan tahun ini kita jadikan sebagai titik tolak pembelajaran untuk memperbaiki attitude dengan nilai-nilai filosofisnya. Apalagi kita sebagai mahasiswa yang terkenal dengan generasi madani. Generasi yang berpikir, agen-agen perubah yang sudah sepatutnya mempunyai attitude yang baik, sebagai generasi percontohan di masyarakat.

Mari kita tunjukan bahwa mahasiswa UNTIRTA, -khususnya metalurgi- berattitude baik. Jangan sampai Ramadhan demi Ramadhan kita lalui, tapi jadi samar makna tentang apa yang kita dapatkan.

Salam Metal…………………….

*) mahasiswa Metal 2004/ mantan Kahima 2007-2008/ Pemerhati keluarga Metal

Tentang Riki Gana

Riki Gana Suyatna
Galeri | Pos ini dipublikasikan di BERANDA, Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s