Kartini ku…..

Bicara kartini memang tak asing bagi dunia pergerakan, perjuangan, pendidikan dan wanita. Karena beliau merupakan salah satu pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan dan dikhususkan untuk pengajaran para wanita. Kenapa pengkhususan ke wanita, pertanyaan nya mungkin demikian. Tak lain dan tak bukan karena wanita pada zaman itu lebih tertindas daripada laki-laki. Pada zaman feodal seperti itu, wanita tak lain hanya sebagi pelayan laki-laki. Jadi tak ada hak-hak istimewa bagi para wanita selain melayani suami, hingga kadang di analogikan dunia wanita hanya ada di dapur dan kasur.
R.A Kartini Joyodiningrat, begiitu nama lengkap beliau. Sangat aktif menulis dan menaruh perhatian besar pada pendidikan. Pendidikan kaumnya, yang sangat terpinggirkan. Catatan perjuangannya yang panjang tentu sangat kontroversi dengan buda patriatrik pada zaman itu. Dimana peranan wanita sangat terbatas dan memang sengaja untuk di batasi. Tak ada kata-kata untuk pendidikan buat para wanita, budaya yang di buat tabu itulah yang trend pada saat itu. Hingga dapat di bayangkan, bagaimana nasib waniita pada saat itu. Saat dulu ada tawaran pendidikan untuk kartini dari pemerintah Kolonial belanda, lagi-lagi kartini tak dapat mengambil kesempatan emas itu. Karena di benturkan dengan kewajiban untuk menikah, atas perintah orang tuanya. Seolah-olah memang tak ada ruang baginya untuk berkembang, dan tentunya tak ada kekuatan bagi dia untuk melawan budaya yang telah di tangguhkan itu.
Begitulah, tapi namanya pejuang, tentu takkan menyerah pada keadaan. Setelah menikah pun kartini tetap konsisten dengan langkah geraknya. Beliau melakukan metode untuk melakukan pengajaran bagi para wanita yang ada di daerahnya. Sesuai dengan cita-citanya untuk menjadi guru. Beliau mengajar dengan perlengkapan sederhana. Beliau menularkan ilmu dan pendidikan untuk kaumnya. Hingga kaumnya mempunyai pemikiran terbuka, merubah paradigma berpikir, bahwa tak hanya pria, kaum mereka pun punya peran yang besar dalam kehidupan ini. Jadi tak seharusnya ada batasan-batasan yang membelenggu ruang geraknya. Mereka pun layak di perhitungkan dan berhak mendapatkan posisi yang layak sebagi manusia merdeka.
Demikian mungkin, perjuangan ibu kita kartini yang menurut lagu disebutkan harum namanya. Sangat menentukan nasib wanita Indonesia di masa yang akan datang. Walau kemudian, kartini tak banyak mengecap keberhasilanya (Beliau meninggal 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya, saat setelah beberapa bulan mengajar kaumnya). Tapi tentu perjuangannya perlu di tiru bagi para perempuan yang lain di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
Tinggal kemudian pertanyaannya adalah “bagaimana para wanita sekarang, apakah memang mereka mampu menangkap filosopi dari perjuanagn kartini, ataukah memang mereka sudah tak lagi memperdulikan apa dan siapa itu kartini, mereka sudah disibukkan dengan modernitas kehidupannya, ataupula mereka memang masih terbelenggu???”. Pertanyaan yang memang harus kita telaah bersama, bukan hanya bagi kaum perempuan. Tapi tentunya menjadi renungan bagi kita semua, laki-laki maupun perempuan. Untuk masa depan bangsa yang lebih cerah, berkeadilan dan kesetaraan kesejahteraan sosial..*(Riki gana)

*) Manusia pembelajar seumur hidup,
Cinta akan sejarah, seni, dan sosial,
Kuliah di Teknik Metalurgi
UNTIRTA

Tentang Riki Gana

Riki Gana Suyatna
Galeri | Pos ini dipublikasikan di BERANDA, Profil. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s