Tim Pemantau UN SMP 2009 Propinsi Banten

Ujian nasional SMP yang di adakan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang dalam hal ini di titik beratkan tugasnya kepada BNSP (Badan Standar Nasional Pendidikan) telah memasuki hari ketiga. Ujian yang dilaksanakan selama 4 hari berturut-turut memang telah dilakukan penstandaran nasional, dimana nilai rerata semua Mata pelajaran ( bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, dan IPA) yang di UN kan minimal 5,5. Berbicara standar nasional, tentunya soal yang diberikan dan tata cara yang digunakan adalah standar nasional atau dengan kata lain sama dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Sepintas lalu, memang bagus. Tapi disisi lain kalo kita tealaah lebih jauh, ada suatu kesenjangan tinggi, dimana kualitas sekolah antara satu daerah dengan daerah lain tak bias kita samakan. Ambil contoh misalkan sekolah yang berada di kampung dan daerah kecil, mereka tak mempunyai fasilitas selengkap sekolah yang berada dipusat ibukota, tapi saat UN dilaksanakan, mereka tak bisa menolak dan mengelak, sebab soal yang diberikan adalah soal standar, artinya antara sekolah didaerah terpencil tersebut akan mengerjakan soal yang sama dengan sekolah yang notabenenya dipusat ibukota. Tak ada alasan tentunya mereka menolak standar, semua harus mengikuti itu demi satu kata yang masih dipertanyakan kebenaran cara melakukannya “Peningkatan Mutu Pendidikan”.
Dilemma besar memang terjadi, satu sisi ingin mencapai kebaikan untuk melakukan standarisasi, tapi disisi lain dibenturkan dengan pemerataan pendidikan yang memang masih kurang diwilayah republic Indonesia……..
Pendahuluannya demikian, terlepas pro dan kontra tentang UN ini, yang jelas pelaksanaan UN ini telah ‘ketuk palu’ untuk dilaksanakan. Bukan lagi kita harus memperuncing masalah kontranya. Tugas kita semua sekarang adalah bagaimana cara untuk mensukseskannya. Salah satu poin penting dari pensuksesan UN ini adalah pada pemantauanya. Baik saat persiapan, pelaksanaan, dan setelah pelaksanaannya. Sebab, tak jarang tentunya banyak oknum yang memang melakukan pembodohan untuk anak-anak didiknya sendiri demi mencapai satu kata LULUs dengan menghalalkan segala cara.
Berdasarkan hal tersebut, maka BNSP membentuk suatu tim independen. Yang bertugas untuk memantau pelaksanaan UN ini dengan POS yang sudah diberikan. Dalam pelaksanaannya pelaksanan dari tim ini diserahkan kepada Perguruan Tinggi Negeri yang berada di wilayah tersebut. Tentu ini berdasarkan koordinasi dengan dinas serta pemerintah daerah yang ada. Seperti sebutannya, memang tugas dari Tim ini adalah memantau secara independen pelaksanan UN. Melihat seberapa independennya pihak sekolah, dan pihak terkait dalam melaksankan UN ini. Memantau semua bentuk apapun yang dilaksanakan yang terkait UN.. Dan tim Ini dinamakan TIM PEMANTAU INDEPENDEN UN 2009 yang kemudian disingkat TPI UN 2009.
Begitulah,,, dan sekarang inilah yang sedang saya lakukan. Menjadi seorang tim independen untuk sebuah SMP swasta di kota cilegon, SMP Al-khaeriyah. Sudah 3 hari berlalu, dan mudah-mudahan ini berjalan dengan semestinya. Sebab terus terang disatu sisi sayapun sebagai manusia tak tega melihat anak-anak yang notabenenya sekolah selama 3 tahun ternyata kelulusannya hanya dengan 4 hari ujian saja………….

*(Riki Gana)

Tentang Riki Gana

Riki Gana Suyatna
Galeri | Pos ini dipublikasikan di BERANDA, Profil. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s