Pasca bentrokan Cikeusik : sebuah opini saja

…..“dar’ulmafasial muqaddamun ‘ala zalbil mashalih” mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada menegakan kebenaran…………………………

Begitu salah satu ungkapan ushul fiqih yang begitu terkenal, tentu ini mengisyaratkahn bahwa kekerasan apapun bentuknya akan menimbulkan kerusakan yang ditentang oleh agama.

Saya terus terang bukan ahi ibdah, hanya orang yang pada umumnya ingin mengenal islam lebih dekat – setidaknya bukan islam KTP doang. Saya bukan anggota dari organisasi islam manapun, saya hanya rakyat biasa yang agak keki kalo semisal terjadi kekerasan yang menimbulkan korban jiwa apapun bentuknya.

Saya tadinya tak bernafsu untuk mengomentari tentang Ahmadiyah dan SKB 3 menterinya, itu soal klasik yang syarat akan politik. Cuma lantaran pada minggu pagi ( 4 Febr 2010) terjadi sebuah insiden yang “mematikan” dan terjadi notabenenya di daerah saya – banten Selatan, setidaknya agak tergelitik untuk menyampaikan sedikit opini tentang hal tersebut.

Opini ini bukan dimaksudkan bentuk keberpihakan, hanya saja saya ingin mencoba memotret sedikit lebih dekat tentang karakter orang sana.

“..Tidak akan ada asap jikalau tak ada api..” ungkapan itu kadang ada benar adanya, dan menurut pendapat saya ini pun yang terjadi pda masyarakat bantenselatan tersebut. Saya sendiri merasa yakin, jika tidak ada “sabab musabab” awal, tentu kemarahan itu tidak akan sebegitu dahsyatnya. Apalagi notabenenya yang melakukan aksi sepengetahuan saya adalah para ulama yang tentu memiliki para pengikut setia dan senantiasa slalu berusaha menjadi panutan. Sepengetahuan saya, isu bahkan bukti bahwa kelompok tersebut sudah lama berada di umbulan telah lama beredar. Ini bukan berarti faktor  keberpihakan sekali lagi, hanya saja sebagai warga sana tentu saya tau persis kabar-kabar yang beredar disana.

Tabiat orang kampung yang agak fanatik akan agama tentu tak jauh berbeda-termasuk saya. Karena kita dibesarkan pada lingkungan konvensional yang lekat akan keislaman. Sehingga saat ada jemaat tertentu-apalagi yang dicap pemerintah terlarang- sifat divensif bahkan ofensif itu timbul dengan serta merta. Saya tau persis ketika jemaat itu mulai bercokol disana, sudahlah banyak yang tidk suka dengan keberadaannya.

Seharusnya dari awaol saat ditengarai bahwa jamaah tersebut ada disana, tentunya badan terkait yang berwenang sudah bisa antisipasi akan kejadian yang mungkin timbul. Saya yakin aparat sudah sangat paham akan tabiat orang banten selatan. Jangankan untuk hal agama yang merasa benar, kadang untuk hal yang samar makna saja rela untuk dipenjara.. Tentu jadi pemerintah disana bukan hanya sehari atau dua hari, bahkan ada yang sudah beberapa menjabat di pemerintahan – Sudah barang tentu hapal akan watak JAWARA yang tak kenal perhitungan yang merupakan ciri khas disana.

Memang sebetulnya benih-benih kekacauan sudah ada, suasan unkondusif tercipta. SEperti kata pepatah … Memancing di air keruh… begitulah bisa kita tebah, disuasana yang demikian ricuh ini ada orang-orang tertentu yang memanfaatkan keadaan. Sehingga suasana yang tadinya sedikit panas menjadi ekstra panas. Mulai terjadi isu-isu yang tak sedap- entah benar atau tidak saya dengar dari teman yang tinggal di cikeusik bahwa jemaat ahmadiyah tersebut mencoba mendakwahkan ajarannya dengan iming-iming gaji perbulan. Terlepas benar atau tidak, isu ini menambah GERAH suasana. Sehingga, saya masih ingat betul, b eberapa sms Provokatif pun mulai menyebar dari orang ke orang-yang notabenenya orang banten selatan dengan embel-embel peduli akan kemurnian islam….

Hah…………….. berat memang….

Tapi terlepas dari itu semua, saya yakin yang dilakukan wraga adalah salah di negara republik yang seperti ini. Entah peran siapa yang absen dalam kejadian ini, hanya sangat disayangkan…lagi-lagi sudah bisa diprediiksikan bahwa rakyat kecilah yang akan jadi korbannya… Liahtt saja sebentar lagi para kiai2 yang akan ditangkap, dijebloskan kepenjara dan kemudian setahun-duatahun pemerintah akan melupakan substansi dari masalahnya. tanpa ambil pusing, bagaimana jika hal ini akan terjadi di kemudian hari…. tanpa ambil pusing dengan nasib keluarga kecil yang ditinggalkan oleh suaminya…

Sungguh kita hanya bisa mengelus dada..!!!

**

Riki gana

-hanya opini saja-

Tentang Riki Gana

Riki Gana Suyatna
Galeri | Pos ini dipublikasikan di BERANDA, Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s