Hanya Opini: Refleksi Gerakan Mahasiswa Lebak Selatan

Minggu, 4 November 2012

**

GambarMenyikapi bermunculannya keorganisasian mahasiswa menjelang Pilkada lebak, membuat saya mengelus dada. Sebut saja beberapa pertemuan yang kemudian dengan latahnya membuat sebuah “perkumpulan atas nama mahasiswa”, atau organ-organ yang dulu sudah mati suri kemudian menjadi “akan eksis kembali”, adapula secara tiba-tiba orang-orang menjadi sangat peduli akan perkembangan di lebak selatan, belum lagi ada orang-orang tertentu yang dengan congkaknya “ngaku-ngaku” paling berjasa dalam perkembangan di lebak selatan. Padahal, cerita kampung halaman selama ini hanya sebagai cerita nostalgia bagi orang-orang yang ada diluar sana.

Huh….

Ungkapan “pemekaran bukan hanya sebagai keinginan, tapi kebutuhan” seolah-olah sudah menjadi “pamonyongan” di setiap ungkapan aktivis di lebak selatan. Dambaan gerakan moral kemahasiswaan pun hanya menjadi mimpi bagi sebagian orang. Sehingga tak jarang akhirnya beberapa orang lebih memilih “menyendiri” daripada bergabung pada sebuah kemunafikan. Tak perlu kita telanjangi satu persatu, saya pun tak berkeinginan menyebar pesimisme gerakan, tapi tak lebih sebagai sebuah gambaran dan otokritik bagi kita bahwa inilah realitanya.

Kebermaknaan dari sebuah gerakan menjadi kandas tatkala hanya dilandasi oleh kepentingan sesaat, baik materi atau sekedar publisitas semata. Gejala narsistis dan penghambaan ternyata menimpa pula pada beberapa gelintir gerakan mahasiswa di Lebak Selatan. Betapa tidak elegannya gerakan mahasiswa yang seyogyanya menjadi gerakan poros tengah, gerakan moral sosial, menjadi semacam gerakan sporadis yang dengan penuh kepentingan di setir oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Primordialitas yang sesungguhnya dihembuskan mendongkrak ‘keegoisan’ untuk semangat pengabdian kemasyarakatan, mengalami kemelencengan makna, sekedar  eksistensi pribadi maupun golongan.

Saya menjadi galau, dengan yang akan terjadi kemudian. Manakala mahasiswa tidak membumi pada masyarakat, mahasiswa hanya sebagai pelengkap institusi kependidikan, sehingga masyarakat tak merasakan “kehadirannya”.

***

Apa yang harus dilakukan??

Ini pertanyaan dasar yang semestinya kita tentukan saat menjadi mahasiswa atau membentuk suatu perkumpulan kemahasiswaan. Lupakan cuap-cuap dimedia dengan bahasa yang retoris. Masyarakat tak butuh dengan itu, yang mereka butuhkan adalah lagu nyata, lagu realitas yang bisa mereka cicipi seperti saat makan garam.

“ .. asin, manis, asam lebih diharapkan dari pada hanya sekedar pada ungkapan : ini akan asin, ini akan manis dan ini kemungkinan asam……”

Mestinya mahasiswa harus tetap berpijak pada tupoksinya. Dimana mahasiswa sebagai manusia pembelajar mempunyai norma luhur untuk menjunjung tridarma perguruan tinggi – Pendidikan, Penelitian dan pengabdian masyarakat. Disamping itu mahasiswa harus bisa menunjukkan jati diri sesuai dengan fungsinya, dimana empat item yang melandasi dan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan gerakan. (agent of change, iron stock, agent of social control, dan moral force). Rasanya kita harus mengembalikan atau setidaknya menyadarkan kembali akan nilai-nilai tersebut, jangan sampai ekspektasi masyarakat lebak selatan akan adanya keorganisasian kemahasiswaan berbalik menjadi sebuah cibiran yang menyesakkan.

……………

Coba sekarang saya tanya, berapa IPM di lebak selatan? Berapa banyak rumah yang layak pakai? Berapa banyak anak usia sekolah yang tidak mengenyam pendidikan? Ada yang punya datanya??? Hayo……

…………..

Masyarakat mendambakan gerakan mahasiswa yang ‘mengena’ bagi mereka, hal ini menjadi indikator keberhasilan pergerakan mahasiswa. Ambil contoh: masyarakat lebih bahagia ketika mahasiswa datang ke kampung pelosok dan mengajari mereka tentang membaca, penyuluhan kesehatan yang baik, memfasilitasi lingkungan hidup yang sehat, atau sekedar bergotong royong membangun toilet warga. Bisa juga melakukan kegiatan ilmiah kependidikan: melakukan diskusi tematik yang konsisten, seminar keahlian atau sekedar melakukan workshop keterampilan untuk masyarakat.

Selamat Berjuang…

Ingat, pemekaran menjadi sangat penting dan mendesak apabila SDM sudah siap dalam estafeta tersebut, tetapi sebaliknya, apabila kita belum siap, itu hanya akan menjadi komoditas politik orang dan golongan tertentu.

Mari bangun era baru untuk pergerakan kemahasiswaan di Lebak Selatan.

Hidup Mahasiswa…!!

####

Riki Gana Suyatna

“ Ikhlas Berbagi membentuk Generasi Mandiri ”

Tentang Riki Gana

Riki Gana Suyatna
Galeri | Pos ini dipublikasikan di BERANDA, KB IMC. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s